Kita sudah sering mendengar bahwa memanjakan anak itu tidak baik. Anak yang terlampau sering dimanjakan akan membawa dampak perkembangan anak yang tidak baik di kemudian hari. Oleh karena itu, para orangtua perlu berhati-hati dalam memanjakan anak. Anak biasanya dimanjakan dengan berbagai macam cara, seperti:
1. Memenuhi segala keinginan anak.
2. Membiarkan dan membolehkan anak berbuat sekehendak hatinya. Dalam artian, tidak membiasakan anak dengan peraturan, kepatuhan, dan tata krama.
3. Memberikan seribu satu pelayanan dan perlindungan kepada anak supaya anak terhindar dari kesulitan.
Masih banyak orang yang beranggapan bahwa anak-anak yang dimanjakan hanyalah anak-anak orang kaya. Sebetulnya hal memanjakan anak tidak tergantung pada kaya atau miskin lingkungan keluarga tersebut. Hal ini lebih dipengaruhi pada wawasan orangtua tentang cara-cara mendidik anak yang baik.
Penyebab anak dimanjakan
1. Orangtua memenuhi semua permintaan anak karena takut pada kesulitan yang ditimbulkan jika permintaan anak tidak dipenuhi. Anak yang tidak dipenuhi permintaannya biasanya akan menangis, rewel, atau marah. Hal ini kerap membuat repot bagi orangtua. Oleh karena itu, sebagian orangtua lebih baik memenuhi permintaan anak supaya terhindar dari rengekan, tangisan, amarah, atau kesulitan-kesulitan lain yang ditimbulkan anak.
2. Orangtua menganggap kepentingan anak harus didahulukan demi kebahagiaan anak. Orangtua semacam ini bersikap lunak kepada anak. Mereka tidak tega mengatakan “tidak” pada permintaan anak. Mereka melayani dan memudahkan kehidupan anak. Mereka takut jikalau tidak memenuhi permintaan anak akan membuat anak benci kepada mereka.
3. Orangtua lalai mengajarkan kedisiplinan pada anak. Orangtua tidak menegur anak yang berbuat salah atau berbuat nakal. Anak lupa untuk dibiasakan peraturan, kepatuhan, dan tata krama.
Akibat memanjakan anak
1. Anak akan mempunyai sifat egois atau mementingkan diri sendiri. Anak yang dimanja sejak kecil merasa bahwa selalu ada orang lain yang akan membantu dirinya atau memenuhi segala keinginan dirinya. Akibatnya nanti, anak akan merasa “besar”, merasa terpandang, merasa kepentingannya adalah yang paling utama. Akibatnya pula, anak semacam ini akan memiliki kepekaan sosial yang kurang. Anak menjadi tidak mengerti bagaimana menghargai orang lain.
2. Anak akan memiliki rasa harga diri yang kurang. Karena selalu dituruti, dilayani, dan dilindungi, akan membuat anak memiliki keyakinan bahwa ia “tidak mampu” mengerjakan sesuatu. Mereka nantinya selalu meminta harapan dan bantuan dari orang lain. Selanjutnya, mereka menjadi lekas putus asa dan keras kepala.
3. Anak akan menjadi kurang memiliki rasa inisiatif. Mereka akan memupuk sifat malas. Mereka enggan mengerjakan sesuatu yang sulit karena sejak kecil anak yang dimanja sudah dimudahkan kehidupannya.
4. Anak akan menjadi tidak mandiri. Jika sejak kecil anak sudah dituruti keinginannya, maka ketika besar anak menjadi dependen atau bergantung pada orang lain. Nantinya, dalam mengerjakan sesuatu, anak akan selalu meminta-minta bantuan kepada orang lain.
Referensi Utama:
Purwono, M. N. (2003). Ilmu pendidikan teoritis dan praktis. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sabtu, 08 Januari 2011
Bahaya Terlalu Memanjakan Anak
Kamis, 06 Januari 2011
Taman Kanak-kanak: Sejarah dan Manfaat
Anak bukanlah orang dewasa mini. Maka dari itu, anak harus diperlakukan berbeda dengan orang dewasa. Oleh sebab itu, pendidikan anak harus disesuaikan dengan jiwa anak. Adalah Friedrich Wilhelm August Frobel (21 April 1782 – 21 Juni 1852), seorang pakar didik anak dari Jerman, yang memelopori munculnya gerakan pendidikan anak.
Ayahnya adalah seorang pendeta. Ibunya meninggal dunia enam bulan setelah ia lahir. Kemudian, Frobel diasuh oleh ibu tirinya yang kejam yang tidak mengakui Frobel sebagai anaknya. Masa kecilnya semakin pahit karena ayahnya tidak pernah mau tahu dengan keadaannya, bahkan ia dicap oleh ayahnya sebagai anak terkutuk dengan kemampuan intelektual yang rendah.
Penderitaan yang dialami Frobel semasa kecil membangkitkan hasratnya untuk memperbaiki dan mengubah cara mendidik anak, baik di rumah maupun di sekolah. Karena besarnya kecintaan pada anak-anak, ia mendirikan sekolah khusus bagi anak-anak prasekolah yang dikenal dengan nama “kindergarten” (Taman Kanak-kanak). Sampai sekarang Frobel dikenal sebagai Bapak Taman Kanak-kanak.
Semboyannya yang terkenal adalah: “Marilah kita hidup bagi anak!” Anjurannya yang terkenal di sekolahnya dalam mendidik anak-anak, yaitu friede, freude, dan freihet (damai, gembira, dan merdeka). Sangat sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak-anak. Metode yang dianjurkan Frobel, yaitu dari anak-anak dan dengan anak-anak. Cita-cita Frobel baru diakui oleh masyarakat setelah ia meninggal dunia. Sebelumnya, semasa ia hidup banyak orang yang mengejek cita-citanya itu.
Perlukah anak-anak kita dimasukkan ke TK sebelum anak dimasukkan ke SD? Tidak perlu diragukan lagi jawabannya. Jelas sekali memasukkan anak ke TK memiliki sejumlah keuntungan. Jika ditinjau dari sudut perkembangan anak, anak usia prasekolah masih memiliki sifat egosentris, suatu sifat di mana anak masih memandang bahwa segala sesuatu yang ada di sekitarnya adalah untuknya, kepunyaannya, dan harus tunduk kepadanya. Sifat ini terkadang menyusahkan orangtua. Anak sering bertengkar, membantah, dan menolak nasihat orangtua. Perasaan sosial anak masih kurang. Dengan memasukkan anak ke TK, anak akan belajar bergaul dengan anak lain, bermain bersama, dan belajar bersama. Anak akan belajar untuk tunduk kepada aturan dan belajar bertanggung jawab. Dengan demikian, perasaan sosial anak akan tumbuh dan terlatih. Selain itu, anak mulai belajar sopan santun, berlaku baik, tolong-menolong sesama teman, dan sebagainya. Semuanya itu baik bagi perkembangan mental anak sehingga anak siap dan matang bersekolah menuju jenjang yang lebih tinggi. (suf)
Referensi utama:
Purwono, M. N. (2003). Ilmu pendidikan teoritis dan praktis. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Minggu, 02 Agustus 2009
Pengembara dan Batunya
Seorang laki-laki berjalan di bawah terik matahari melalui daerah tidak dikenal. Ia telah berjalan sepanjang hari ketika ia merasa cemas dan mulai khawatir bahwa ia mungkin salah jalan. Mendadak, ia terkejut melihat seorang laki-laki amat sangat tua duduk bersandar pada sebuah batang pohon. Kedua tangannya terlipat dan kepalanya terkulai di atas tangan. Rambut putih laki-laki tua itu berkilau memantulkan sinar matahari.
Si pengembara yang terkejut itu berlari menemuinya dan bertanya, “Maaf, permisi, apakah Anda baik-baik saja?” Lelaki tua itu tidak bergerak atau pun menjawab.
Si pengembara berlutut dan menyentuh bahu lelaki tua tersebut sambil bertanya lagi, “Permisi, apakah Anda tidak apa-apa?”
Lagi-lagi dia tidak mendapatkan jawaban. Si pengembara berdiri dan berniat melanjutkan perjalanan, ketika tiba-tiba kepala lelaki tua itu terangkat dan matanya terbuka lebar.
Dengan suara lemah dan terpatah-patah si lelaki tua berkata, “Teruslah berjalan, kau berada di jalan yang benar. Sebelum kau menyeberangi sungai, kumpulkan apa yang kau temukan di sana sebanyak-banyaknya, karena kau tidak akan pernah bisa kembali.” Matanya tertutup dan kepalanya kembali disandarkan pada tangannya.
Si pengembara menunggu, kemudain akhirnya berbalik dan melanjutkan perjalanannya di bawah sengatan matahari, sambil berkata pada dirinya sendiri bahwa lelaki tua itu mungkin gila. Kemudian, ia memikirkan perkataan lelaki tua itu dan tertawa sendiri, “Mungkin sungainya juga tidak ada!”
Si pengembara berjalan terus dan akhirnya sampailah dia di kaki sebuah bukit besar. Ketika ia mencapai puncaknya, ia melihat sebuah sungai besar yang indah mengalir perlahan di balik bukit. Dengan bersemangat, ia berlari menuruni bukit dan meloncat ke dalam air yang sejuk. Dia menari-nari sambil menciprat-cipratkan air ke atas sehingga membasahi seluruh tubuhnya. Tiba-tiba ia tertegun, suara lelaki tua itu terngiang kembali di telinganya, “Sebelum kau menyeberangi sungai, kumpulkan apa yang kau temukan di sana sebanyak-banyaknya, karena kau tidak akan pernah bisa kembali.”
Si pengembara itu mencari-cari ke sekelilingnya, tetapi tidak melihat apa pun kecuali, ranting, bebatuan, dan rerumputan biasa. Ia berpikir, “Satu-satunya yang bisa kukumpulkan adalah batu-batu ini, tetapi untuk apa? Untuk menghalau binatang buas, ah, rasanya tidak mungkin.”
Tapi, ia membungkuk juga untuk mengumpulkan beberapa buah batu dan mengantonginya. Kemudian, ia berbalik untuk menyeberangi sungai, tetapi ia berhenti lagi, dan berpikir, “Ini hal yang paling gila yang pernah kulakukan.” Kemudian, ia pun menyeberangi sungai.
Langit menjadi gelap, dan pengembara itu kelelahan sehingga ia memutuskan untuk menghentikan perjalanannya dan mendirikan sebuah tenda kecil. Dengan cepat ia tertidur. Menjelang tengah malam, mendadak ia terbangun dan berdiri. Ia menatap bulan purnama yang menerangi langit. Ia menjadi marah saa menyadari apa yang membangunkannya. Batu-batu dalam kantongnyalah yang telah mengganjal tubuhnya. Ia mengeluarkan segenggam batu itu dan menyingkirkannya. Sinar bulan memantul pada batu-batu itu. Ternyata, batu-batu itu berubah menjadi intan permata yang tak ternilai harganya! Si pengembara merasa menyesal. “Andai saja aku mengumpulkan lebih banyak sebelum menyeberangi sungai tadi,” pikirnya.
Pesan moral dari kisah di atas:
Sekolah seperti tepian sungai yang penuh batu-batu berserakan yang mungkin akan menjadi permata jika Anda mengambilnya. Seperti lelaki tua yang tidak dapat memaksa si pengembara mengambil batu sebanyak-banyaknya, guru juga tidak dapat memaksa Anda mengumpulkan ilmu yang ditawarkan di sekolah. Tidak juga orang lain. Tetapi, guru dapat dan akan mendorong Anda untuk mengumpulkan ilmu pengetahuan sebanyak mungkin sebelum Anda menyeberangi sungai karena Anda tidak akan pernah bisa kembali ke saat ini.
Rabu, 01 Juli 2009
Menjadi Seorang Quantum Teacher
Guru adalah faktor yang paling berarti dan berpengaruh dalam kesuksesan siswa sebagai pelajar. Dr. Georgi Lozanov menyatakan bahwa tindakan yang paling ampuh yang dapat seorang guru lakukan untuk siswa adalah memberikan keteladanan tentang makna menjadi seorang pelajar. Keteladanan seorang guru akan memberdayakan dan mengilhami siswa untuk membebaskan potensi milik mereka sebagai pelajar.
Apa itu quantum teacher? Sebelumnya perlu dijelaskan mengenai quantum, yaitu interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Jadi, quantum teacher adalah seoang guru yang menyingkapkan energi alamiah dalam diri setiap siswa dan mengorkestrasi interaksi yang mengubah energi tersebut menjadi cahaya bagi orang lain.
Apa ciri-ciri seorang quantum teacher? Berikut ini adalah ciri-cirinya:
• Antusias: menampilkan semangat hidup
• Berwibawa: menggerakkan orang
• Positif: melihat peluang dalam setiap saat
• Supel: mudah menjalin hubungan dengan beragam siswa
• Humoris: berhati lapang untuk menerima kesalahan
• Luwes: menemukan lebih dari satu cara untuk mencapai hasil
• Menerima: mencari di balik tindakan dan penampilan luar untuk menemukan nilai-nilai inti
• Fasih: berkomunikasi dengan jelas, ringkas, dan jujur
• Tulus: memiliki niat dan motivasi positif
• Spontan: dapat mengikuti irama dan tetap menjaga hasil
• Menarik dan tertarik: mengaitkan setiap informasi dengan pengalaman hidup siswa dan peduli akan diri siswa
• Menganggap siswa “mampu”: percaya akan dan mengorkestrasi kesuksesan siswa
• Menetapkan dan memelihara harapan tinggi: membuat pedoman kualitas hubungan dan kualitas kerja yang memacu setiap siswa untuk berusaha sebaik mungkin
Referensi:
DePorter, B., Reardon, M., & Singer-Nourie, S. (2000). Quantum teaching: Mempraktikkan quantum learning di ruang-ruang kelas. Bandung: Kaifa. (Karya asli diterbitkan tahun 1999).
Senin, 08 Juni 2009
Tiga Domain Pendidikan
Pendidikan di segala jenjang pada umumnya dimaksudkan mendapatkan tiga domain dalam pembelajaran, yaitu kognitif, psikomotor, dan afektif. Dalam bahasa sehari-hari dapat diterangkan menjadi: pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Pembelajaran kognitif (pengetahuan) mencakup pemerolehan informasi dan konsep. Pembelajaran ini tidak hanya berkenaan dengan pemahaman bahan ajar, tetapi juga dengan analisis dan penerapannya pada situasi baru. Pembelajaran psikomotor atau perilaku (keterampilan) mencakup pengembangan kompetensi pada kemampuan siswa dalam mengerjakan tugas, memecahkan masalah, dan mengungkapkan pendapat. Pembelajaran afektif (sikap) mencakup pengkajian dan penjelasan tentang perasaaan dan preferensi (kesukaan). Siswa dilibatkan dalam menilai diri mereka sendiri dan hubungan pribadi mereka terhadap materi pelajaran.
Pembelajaran aktif atas informasi, keterampilan, dan sikap berlangsung berlangsung melalui proses penyelidikan atau proses bertanya. Siswa dikondisikan dalam sikap mencari (aktif) bukan hanya menerima (reaktif). Dengan kata lain, siswa mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada mereka atau pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan sendiri. Mereka mengupayakan pemecahan atas permasalahan yang diajukan oleh guru. Mereka tertarik untuk mendapatkan informasi atau menguasai keterampilan guna menyelesaikan tugas yang diberikan kepada mereka. Kemudian, mereka dihadapkan pada persoalan yang membuat mereka tergerak untuk mengkaji apa yang mereka nilai dan yakini. Semua ini terjadi apabila siswa dilibatkan dalam tugas dan kegiatan yang secara halus mendesak mereka untuk berpikir, bekerja, dan merasa.
Jenis-jenis kegiatan yang berkaitan dengan pembelajaran aktif dapat dilihat dari beberapa judul posting saya sebelumnya...
Referensi:
Silberman, M. L. (2006). Active learning: 101 cara belajar siswa aktif (edisi revisi) (R. Muttaqien, Penerj.). Bandung: Nusamedia. (Karya asli diterbitkan tahun 1996).
Minggu, 07 Juni 2009
Jigsaw Classroom: Belajar Ala Permainan Jigsaw
Belajar ala permainan jigsaw (menyusun potongan gambar) merupakan teknik yang paling banyak dipraktikkan (Silberman, 1996/2006). Entah di Indonesia, apakah sering dipraktikkan di sekolah-sekolah? Sepanjang hidup saya, saya tidak ingat pernah diberikan pembelajaran ala jigsaw. Namun, apa pun itu, patutlah dicobakan.
Metode ini salah satu variasi dari cooperative learning. Metode ini merupakan alternatif menarik bila ada materi belajar yang bisa disegmentasikan atau dibagi-bagi dan bila bagian-bagiannya harus diajarkan secara berurutan. Kelas dibagi ke dalam kelompok. Tiap anggota kelompok mempelajari satu bagian materi. Tiap anggota kelompok yang mendapat bagian materi yang sama membentuk kelompok lagi untuk mendiskusikan bagian materi tersebut. Setelah itu, tiap anggota kelompok kembali ke kelompok awal mereka dan saling mengajarkan bagian materi kepada anggota kelompok lain.
Prosedur:
1. Pilih materi belajar yang bisa dipecah menjadi beberapa bagian atau segmen. Sebuah bagian bisa sependek kalimat atau sepanjang beberapa paragaf. (Jika materinya panjang, perintahkan siswa untuk membaca tugas mereka sebelum pelajaran.)
Contoh:
• Sebuah naskah biografi tokoh sejarah
• Bagian-bagian eksperimen ilmu pengetahuan
• Daftar definisi
• Sejumlah artikel setebal majalah atau jenis materi bacaan pendek lain
2. Hitung jumlah bagian yang hendak dipelajari dan jumlah siswa. Bagikan secara adil bagian-bagian itu kepada berbagai kelompok siswa. Sebagai contoh, jika kelas terdiri dari 30 siswa. Materi pelajaran mungkin dapat dibagi menjadi 6 bagian.
3. Selanjutnya, dapat dibentuk kelompok kuintet (kelompok dengan 5 orang). Kita sebut saja “kelompok belajar bagian”. Tiap-tiap kelompok kuintet ini mendapat bagian materi yang sama untuk membaca, mendiskusikan, dan menguasai per bagian materinya.
4. Setelah waktu belajar selesai, bentuklah kelompok “jigsaw”. Kelompok tersebut terdiri dari perwakilan tiap kelompok kuintet di kelas. Nantinya, akan terbentuk kelompok kuintet yang baru dengan bagian-bagian materi yang berbeda. (Atau, alternatif lain, kelompok “jigsaw” sudah dibentuk terlebih dahulu sebelum dibentuk “kelompok belajar bagian”.)
5. Perintahkan anggota kelompok “jigsaw” untuk mengajarkan satu sama lain dari hasil diskusi dan apa yang telah mereka pelajari sebelumnya.
Dengan demikian, tiap siswa mempelajari sesuatu yang, bila digabungkan dengan materi yang dipelajari oleh siswa lain, membentuk kumpulan pengetahuan atau keterampilan yang padu.
Gambar diambil dari http://img.tfd.com/wn/52/62CCB-jigsaw-puzzle.jpg
Referensi:
Santrock, J. W. (2008). Educational psychology (3rd ed.). New York: McGraw-Hill.
Silberman, M. L. (2006). Active learning: 101 cara belajar siswa aktif (edisi revisi) (R. Muttaqien, Penerj.). Bandung: Nusamedia. (Karya asli diterbitkan tahun 1996).
Sabtu, 06 Juni 2009
Cooperative Learning
Cooperative learning adalah suatu kegiatan belajar di mana siswa membentuk kelompok kecil dan mengajari satu sama lain (Santrock, 2008). Kelompok yang dibentuk mungkin terdiri dari sepasang (2 orang), atau mungkin terdiri 4 orang atau lebih tergantung dari ukuran kelas. Apa yang didiskusikan siswa dengan teman-temannya dan apa yang diajarkan siswa kepada teman-temannya memungkinkan siswa untuk memperoleh pemahaman dan penguasaan materi pelajaran. Selain itu, cooperative learning dapat meningkatkan interdepedensi (ketergantungan) siswa. Bahasa umumnya, bisa bikin siswa jadi makin akrab.
Sebagian pakar (Silberman, 1996/2006) percaya bahwa sebuah mata pelajaran baru benar-benar dikuasai ketika siswa mampu mengajarkannya kepada orang lain. Cooperative learning memberi siswa kesempatan untuk mempelajari sesuatu dengan baik, dan sekaligus menjadi narasumber bagi siswa lain.
Salah satu bentuk cooperative learning yang sering digunakan adalah presentasi per kelompok. Kelas dibentuk kelompok (4-6 orang), lalu diberikan materi yang berbeda-beda. Kelompok diberi waktu untuk menguasai materi. Setelah itu, tiap kelompok diberikan kesempatan untuk mempresentasikan apa yang dipelajari di hadapan siswa-siswa lain. Whew… Bicara soal presentasi, jujur saja, berdasarkan pengalaman saya, presentasi yang dilakukan oleh para siswa jauh lebih-lebih membosankan dan lebih membingungkan daripada apa yang dipresentasikan oleh guru atau dosen (termasuk saya juga lho). Mengapa? Entahlah, mungkin dari faktor budaya pengajaran Indonesia yang memang menuntut siswa lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Jadi, saat siswa diminta presentasi, hasilnya kurang memuaskan. Siswa sering tegang, grogi, atau banyak membaca slide layaknya orang berpidato (mending pidatonya berapi-api, tapi ini mah datar-datar saja) sehingga kurang menarik… Hehe, bukan curhat colongan oy…
Namun, bukan berarti, saya mengatakan pembelajaran dengan presentasi adalah buruk. TIDAK SAMA SEKALI. Justru, ini dapat melatih oral communication skil siswa. Oleh karena itu, penting bagi guru atau dosen untuk terus memberikan feedback kepada anak didiknya, baik dari segi materinya maupun cara mereka dalam membawakan materi, sehingga presentasi siswa dapat menjadi pengajaran yang efektif.
Gambar adalah foto saya saat presentasi di kelas Psikologi Sosial 2.
Referensi:
Santrock, J. W. (2008). Educational psychology (3rd ed.). New York: McGraw-Hill.
Silberman, M. L. (2006). Active learning: 101 cara belajar siswa aktif (edisi revisi) (R. Muttaqien, Penerj.). Bandung: Nusamedia. (Karya asli diterbitkan tahun 1996).