Sabtu, 30 Mei 2009

Student-Centered Teaching: Belajar Siswa Aktif

Lebih dari 2400 tahun silam, Konfusius mengatakan:

Yang saya dengar, saya lupa
Yang saya lihat, saya ingat
Yang saya kerjakan, saya pahami

Tiga pernyataan sederhana ini berbicara banyak tentang perlunya belajar aktif.

Kebanyakan siswa melupakan apa yang guru ajarkan karena terlalu lama dan panjang informasi yang disampaikan oleh guru. Pada umumnya, guru berbicara dengan kecepatan 100 hingga 200 kata per menit, sementara siswa hanya mampu mendengarkan dengan penuh konsentrasi 50 hingga 100 kata per menit (Silberman, 1996/2006). Itu karena siswa juga berpikir banyak selain mendengarkan. Berkonsentrasi terhadap apa yang dikatakan guru dalam waktu yang lama bukanlah perkara mudah bagi siswa. Ketika mendengarkan ceramah guru dalam waktu yang panjang, siswa cenderung merasa bosan, dan tak pelak lagi pikiran mereka akan mengembara entah ke mana.

Bahkan, sebuah penelitian menunjukkan bahwa dalam perkulian bergaya ceramah, mahasiswa kurang menaruh perhatian selama 40% dari seluruh waktu kuliah. Mahasiswa dapat mengingat 70% persen dalam 10 menit pertama kuliah, sedangkan dalam 10 menit terakhir, mereka hanya dapat mengingat 20% persen materi kuliah. Tidak heran, mahasiswa dalam kuliah psikologi yang disampaikan dengan gaya ceramah hanya mengetahui 8% lebih banyak dari kelompok pembanding yang sama sekali belum pernah mengikuti kuliah psikologi (Silberman, 1996/2006).

Pemberian materi pelajaran dengan menggunakan media visual dapat meningkatkan ingatan siswa dari 14 hingga 38% terhadap materi (Silberman, 1996/2006). Namun demikian, perlu diingat, belajar tidak cukup hanya dengan mendengarkan atau melihat sesuatu.

Mengapa siswa perlu belajar aktif? Hal ini ada sangkut-pautnya dengan otak manusia. Otak manusia tidak berfungsi sebagai tape recorder yang mampu menampung informasi yang masuk, tetapi otak juga harus mengolahnya. Otak akan melakukan tugas belajar dengan lebih baik jika otak membahas informasi itu dengan orang lain, atau diminta mengajukan pertanyaan tentang itu.

Menurut John Holt (dikutip dari Silberman, 1996/2006), proses belajar akan meningkat jika siswa diminta untuk melakukan sesuatu terhadap informasi, sebagai berikut:
1. Mengemukakan kembali informasi dengan kata-kata mereka sendiri
2. Memberikan contohnya
3. Mengenalinya dalam bermacam-macam bentuk dan situasi
4. Melihat kaitan antara informasi itu dengan fakta atau gagasan lain
5. Menggunakannya dengan beragam cara
6. Memprediksikan sejumlah konsekuensinya
7. Menyebutkan lawan atau kebalikannya

Dengan melakukan beberapa hal di atas, kita bisa mendapatkan umpan balik tentang seberapa bagus pemahaman kita.


Proses belajar sesungguhnya bukanlah menghafal semata. Banyak hal yang kita ingat akan hilang dalam beberapa jam. Mempelajari bukanlah menelan semuanya. Untuk mengingat apa yang diajarkan, siswa harus mengolahnya atau memahaminya. Seorang guru tidak dapat dengan serta-merta menuangkan sesuatu ke dalam benak para siswanya karena siswa sendirilah yang harus menata apa yang didengar dan dilihat menjadi satu kesatuan yang bermakna. Tanpa peluang untuk mendiskusikan, mengajukan pertanyaan, mempraktikkan, dan barangkali bahkan mengajarkannya kepada siswa yang lain, proses belajar sesungguhnya tidak terjadi.

Ketika kegiatan belajar sifatnya pasif, siswa mengikuti pelajaran tanpa rasa keingintahuan, tanpa mengajukan pertanyaan, dan tanpa minat terhadap hasilnya (kecuali, barangkali, nilai yang diperoleh). Ketika kegiatan belajar sifatnya aktif, siswa akan mengupayakan sesuatu. Siswa menginginkan jawaban atas sebuah pertanyaan, membutuhkan informasi untuk memecahkan masalah, atau mencari cara untuk mengerjakan tugas.

Gambar diambil dari http://mipsos.files.wordpress.com/2009/02/oa1xxx682.jpg

Referensi:
Silberman, M. L. (2006). Active learning: 101 cara belajar siswa aktif (edisi revisi) (R. Muttaqien, Penerj.). Bandung: Nusamedia. (Karya asli diterbitkan tahun 1996).